Jumat, 20 September 2013

the hardest Wednesday of the year

Clumsy adalah nama tengah saya untuk dua minggu terakhir. Kecerobohan demi kecerobohan berujung pada luka kecil dan besar. Mulai dari terantuk meja, kejedot pintu, kejepit tangan, tangan teriris cutter, kaki terjepit meja (kok bisa!?), sampai yang paling parah, terbakar knalpot. Babak belur dah... belum lagi, ini semua jatuhnya disaat lagi banyak-banyaknya kerjaan.

And the worst was the last Wednesday. Berangkat dari rumah udah yang pagiiii kali. Berharap sampe sekolah fresh lah ya kan. Mana ada! Tetiba aja hoyong saket kepala. Padahal hari itu jam ngajar penuh. Yasudir... tanggung jawab tho. Jam pulang kelas saya sekitar 12.30. Tapi berhubung anak-anak harus ditungguin untuk dijemput, yaaa... mau begimana lagi. Itupun minta bantuan co.teacher buat wakilin karena saya mau pulang cepat, karena jam 15.00 saya ada jam mengajar lagi di tempat lain. Dua kelas dengan durasi 1,5 jam perkelas. Dalam artian, saya harus persiapkan bahan mengajar pas waktu pulang.

Mengingat keefektifan waktu, meluncurlah saya ke rental dekat rumah dengan tujuan, siap nge.print ya langsung pulang. Sedang asik-asiknya edit bahan, jreng jreng.. telpon bunyi, panggilan masuuuuk Rupanya si Dindo Sarindo yang telpong. "Apa Nak!?" tanya saya. "Aloooot, Dinda saket kali ni, mau pulang, tapi gak bisa. Kartu izin keluar Dinda punya udah hilang" jelasnya panjang. Ya ampyuuun, that's only mean one thing. "Jadi!?", serobot saya. "Alot jempot Dinda lah lot. Kalau gak ada yang jemput gak boleh keluar..". Saya pun menjelaskan keadaan yang sebenarnya bahwa diriku akan mengajar lagi dalam 1, 75 jam lagi. Kapalo! Siap ngomong gitu, saya berasa tidak enak. "Yaudahlah Dinda.. tunggu ya"

Semua editan selesai, dan mulailah saya mengeprint dan meng.copy. Jugruk jugruk...jugruk jugruk bunyi printer meutuah punya abang rental. Hehehhehe.
Time to pay now. "Padup dek?" tanya saya sama si penjaga warung,.. edo do eee, warung!?
"16.000 kak", jawabnya. Dengan gaya santai kaedah saya buka tas cari uang.. genjreeeeeng... Ternyata oh ternyata uang yang ada cuma selembar 10 ribuan. Whaaaaaa. Saya tidak hilang akal, maka semua isi tas saya keluarkan disitu, di depan adek-adek(ntah iya pun adek, sang tuha jih ngoen loen) yang jaga rental. Ketemu... selembar 2000an, 2 lembar seribuan.. Kiban cara... 2000 teuk pat tamita. Kapalo!! jreng jreng.. Buka kotak pingsil. Ghegheghegeh.... ada recehan disana, satu koin 1000 dan 2 koin 500. PAS!! HOREEEEEEEE. Achievement. Survive donk.. Dah bongkar tas gini.

SEnang kaedah kawan, padahal masalah nunggu tepat 500 meter dari situ. Maka sountrack film horor pun dimulai. Auuuuuuuuuuuu (kaedah suara serigala)

Kencang laju motor kutancapkan kaedah.. Sampai tiba-tiba... Tiba-tiba... Dug..dug...dug.. Kamate honda loen di teungoh jalan. Alah mak oi, kiban nyoe. Dengan sigap (terlambat sigapnya neng) saya buka tanki motor, ngintip. Berharap ada satu dua tetes yang nyempil. Cukuplah buat sampe sekolah Dinda. Pan disana si Dinda pasti ada uang (alot mumang). Masih santai... Theeeeeng... begitu dicek, bek han sititep, me si.lieh ludah than. Kapalo lom... Kiban nyoe. Barulah panik menyerang. Liat jam, sudah 1.30. Buka lagi dompet, berharap ada keajaiban ada uang nyelip disana. Ceng ceeng. Padahal tadinya satu tas sudah dikeluarin. Ternyata uang pun sudah benar2 ludes. Panik memasuki stadium 2. Cek hp dengan niat mau telpon Dinda. Jegreng jegreng ternyata pulsa seretoh rupia. Nyan baaaaan. Kamekarat nyoe. Call me pun diaktifkan, dan termakan lah pulsa yang sudah tak seberapa mana itu. Sebelum saya sadar bahwa ternyata pulsa segitu bisa mematikan koneksi internet walaupun kuota masih sejuta sekalipun. Whaaaa. Sebelum koneksi internet mati, cuma satu kalimat yang sempat terkirim ke si Amsal, sepupu saya "Sal... tulong kak UPik".... di ujung sana, tepatnya di Lamreung, pesan masuk dan heniiiiing. Si Amsal pun tak bergegas jak telepon loeng, HIyaaaaaaak. Tertahe tahe lah saya disitu selama 10 menit. Berpikir dan menangis (feel helpless ). I was in the middle of nowhere. Dengoen aneuk di sikula saket.

Terlihat lah kiosk orang jualan pulsa. "Nyaaan...nyoe payah lake tuloeng bak gob mekat pulsa". "Memelas stadium akhir" activated, seraya memisahkan diri dengan yang namanya "malu" dan "integritas diri sebagai manusia dewasa yang hati-hati". Si adek meutuah itu pun... Tidak bergeming. "Maaf kak. hana jeut bantu", katanya. Dan tertahe tahe episode kedua bersambung, diselingi iklan moe moe iem. Entah si adek tu gak sanggup liat, ntah bingung, dia pun akhirnya bertanya, "Nomornya kak?". Whaaaaaaaaaaaaa. Achievement loem, Berhasil! Begitu pulsa masuk si Amsal pun saya telpon lagi. "Sal... pat kheuh?" tanya saya dan sambil menjelaskan keadaan.

Amaaaaan pikir saya sambil menunggu the hero coming to help. 5 menit...10 menit...15 menit.. Phat aneuk metuah nyan? Setiap ada anak cowok lewat saya kira Amsal. "Sal...nyopat kak Upik" teriak saya sambil dada dada... ternyata bukan. Sudah lebih 6 honda yang saya "salah sangka kan". Cape deeee.

Akhirnya saya pun menelpon Mamak. "O maaaaaaaak..." mulai saya sambil menjelaskan keadaan yang clueless dan hopeless itu. Hehehhe, tentu saja pakai iklan "tears of heaven" (beuh pane from heaven!!)

Akhirnya ada sepupu yang lain, Mirza, yang jemput si Dinda ke sekolah berkat "titah" mamak. Maka menunggu Amsal pun dilanjutkan. Jreng.... Dia datang... tak tahan saya tak tersenyum... wheeeeeeee. Saya selamat. Ipetebiet peng le si Amsal lage aneuk muda India. Dibaye adek pulsanyan. Dikeluarkan plastik sekilo berisi minyak bensin, dan dituanglah ke dalam tangki yang sudah haus sejak dari tadi. (seriously... this part I call lebay bin alay).

Kabereh! Beuh pane bereh, jam sudah14.35 dan jam 15.00 saya masih harus ngajar. Oh Noooooooo. Again!? Balap lagi sampe rumah, "Maaaaaak... pasoe bue lam ploek, pajoh di tempat les mantoeng". berganti lah baju saya dengan baju yang baru saya sadari justru waktu saya selesai mengajar 3,5 jam kedepan. Baju gembel yang kebesaran dan kedodoran. Tapi tak apalah. Selesai. Ngajar sampai jam 18.30 dan saya meluncur pulang (when I say "meluncur", I literally mean "meluncur", because my speed is always around 70 to 90 km/hr_only when I ride alone)

Maghrib pun terasa lebih nikmat dan tenang. Asiiik. sampai dua ibu-ibu paruh baya datang tepat sesudah maghrib. "Pik...tolong lah edit skripsi ibu". Jreeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeng. 2 ya ngoen! 2!! Whaaa. kakeuhlah. Dengar ibu-ibu tu ngomong panjang lebar masalah skripsi. Ya Tuhan. Udah berumur juga ya yang buat skripsi ini, kenapa disusahin!? Kasihan lah woi... Heran

Pulanglah mereka berdua setelah dua jam lebih. Dan godam pun berdentang di kepala saya. Saat saya lagi santai-santai tidur, Bruuuuuk... suara orang jatuh! apa lagi ni!?
Ternyata oh ternyata...Kakak tertua saya pingsan sodara-sodara! Di kamar mandi. Whaaaaaaaaa. Gak ada laki satupun di rumah, sedang keluar semua. Kapalo! Berempat dengan Mak, Kakak saya yang lain, dan sepupu perempuan, kami angkat si kakak ke dalam.

Fiuuuuuuuuh...... setelah si kakak sadar...
Masalah barupun entah berakhir, entah dimulai lagi. Yang jelas malam itu, tidur serasa dalaaam.
Rabu horor itu pun berakhir dengan pagi Kamis yang lebih dahsyat lagi.

Nyan ban cerita loen tuan... ^^

Lamreung, 21 September 2013

Kamis, 01 Agustus 2013

I've been dating and about to break up

For more than two years, I've been dating him. No one knows. No one seems to notice. As most of relationship ever built, I love him. So much, that I can stop smiling when it comes about him. I like every part of him. I know how it's hard sometimes for me to meet him. Yeah...in fact, we're meeting every night before I go to sleep, when I wake up. And he just knows how to boost my mood. Hopes that he gives are just so great for me to ignore. There's not even a day I stop thinking about him. he is my inspiration. The fuel for my hard days in the weeks. He is every reason I stay up late every night.

There were times when he was ready to live with me the whole life ahead. I trusted him, I believed the words. And to make it worse, he said it so many times and failed to prove it, but I still believe him. With all of my love. I love him with every breath that makes me alive.

Now... I'm just too tired to wait for those words to be come true. Now.. and the end of this year, I know that we will break up. Though it's not him that wants this all, I am the one who got too scared to live without him.

Today, he can't make it true again...like most of the times we spend together, he came to me with joy but then he slapped me on the face with the fact, still when I put a smile on my face. How pathetic.

These two years past, I find my life so exciting to live on, with him on my side. And now, when I decide to leave him soon.. I wonder where life will turn me to.

He is still there, that is the fact. I'm the one who is leaving away. Running from him, and I know no matter how far I run away from him, he will always be there waiting for me to come back in his arms.

He is my love. And his name is Dream. Dream of getting higher education.

Today I got a very tough words from a friend. He said, maybe it's not you that is wrong, maybe it's just not your time, or maybe it's not your path, it is just not your way to walk through. Yeah...maybe I have to come to realize that sometimes to let go just ease your way. And I know it, that it is my fault to expect too much. That it is my fault, to let my dream manipulating my entire life. I can't control it. I grab it to tight that it always slips away of my hand. And maybe, I just have to release it free.. let my dream be free...

I've been dating... with my dream, but now...we're about to break up.




Ulee Kareng, August 1, 2013Song for Mia

Rabu, 31 Juli 2013

Week 3- Being a First Grader Teacher

School year has just begun. All students were in the class, excited. There were only two new students on the sight. The rest come from the same kindergarten, this school too.

I have been teaching here since 2011. That's what some people or even teachers here don't know about. Maybe because, I wasn't here along the days, only once  week. I first taught as religion and Arabic teacher, though I graduated from English Department. I know the basic in Arabic and Religion for kids, so I agreed to teach here. Months passed, and I come and leave to this school for several times. As sub at most of the time. Now, I feel privileged yet challenged to handle the grade 1 where most of students graduated from the same school. I have met those kids before, long when they were in Kindergarten 1, two years before when I was their class adviser for two months straight. Therefore, I thought it's not gonna be that hard to deal with. Alas... I was totally wrong.

I forgot the fact that this is their very early stage in adapting a new system from Kindergarten to elementary. That is not something unimportant to be concerned about.

They now, have abundant subjects to deal with. Don't ask me, I don't like this fact too. I hate the fact that education in most of developing countries tend to ignore that kids are kids. Beside getting so many subjects to master, they  still need their times to have fun. This is not my part to complain about, but to adapt it in my own way. And this is a point where I, as a teacher should elaborate and think hard how those "subjects" can be absorbed by the kids without causing "over-burdened" feelings or "harm". I mention "harm" in here, because I am one who believe that the most important phase in constructing students' academic skills begin when they are so young. Wrong turns in approaches and methods are just gonna lead those kids into the studying habits that no one seems to expect. Unfortunately, I saw it this week.

The first two weeks seemed to be okay, I thought I just need to have teacher-student conference after school with students who need more practice. Again, this is just not enough. 

This week, most of the subjects I reviewed should actually shows improvement, yet most of them found it is okay to memorize, but when it comes to writing. They messed up. I messed up. I wonder what makes those brilliant kids end up this way. But then I come to realize, they were taught to memorize before, not to understand. However, they show excellent penmanship and speaking skill. Yeah... they are way beyond great in speaking. I mean for the kids at their ages whose first language are not English.

Now, I feel like I have to start the very new, effective way in getting into their minds. And I do believe, building such good psychological relationships are so important. Kids need to feel comfortable first with their teachers. I have to make them like me first to get their attention. Once they like me, it's just that easy  for me to conduct any approach or method in teaching them. 

Last... I feel so sorry, terribly sorry for some of the kids that need more attention from their parents. Needless to say, they all come from different way in parenting. And that leads to something crucial. No matter how great I am as a teacher, it is a certainty that no goals will be achieved without parents' supports.
 pic from http://lifeinfirstgrade1.blogspot.com/

Setengah Jalan, Penuhnya cerita di 2013

Serasa  sudah lamaaaa sekali saya tidak mem.post satu pun tulisan. Dan saya adalah tipe yang suka mengumpulkan ide menulis atau draft yang kemudian dipublish sekalian.

Dimulai dari bulan Maret. Saat itu adalah saat saya kembali bangkit dari jatuh yang teramat jatuh akibat dua tamparan yang boleh dibilang sangat keras. Saya dikhianati oleh mimpi saya sendiri. Gagal untuk saat itu. Dua fakta sakit yang luar biasa buat saya, tapi toh sekarang saya jadi merasa lebih kuat karenanya. Ya, saya percaya seorang kuli bangunan tidak lah sekuat itu kalau dia tidak "terpaksa" bekerja keras banting-tulang setiap harinya. Keharusan dan proses yang membuatnya jadi kuat. Analogi yang sama yang selalu saya terapkan ke diri sendiri. Terus mencoba, lagi dan lagi. kita tidak tahu sejauh mana kita bisa berlari kalau mengambil langkah saja sudah enggan.

Beberapa bulan kebelakang, saya sangat bersyukur. Banyak teman-teman yang mendukung , menyemangati dan terus mendoakan "perjuangan" panjang ini. Sebagian besar adalah teman-teman seperjuangan. "Pemburu-pemburu" tangguh dan unik yang Tuhan jumpakan dengan saya dalam kesempatan yang tak pernah terbayang sebelumnya. Manusia-manusia luar biasa yang selama dua tahun terakhir terus menemani minggu terberat, tergila, terbosan, dan terindah dalam hidup saya. Namun, ada beberapa teman-teman yang baru saya kenal, lagi dalam Ijin Tuhan yang tak pernah terduga sebelumnya. IjinNya jugalah tersimpan banyak cerita dengan mereka. Luar biasa.

Akhir Maret merupakan pengalaman unik dan berharga sendiri bagi saya. Banyak hal baru yang saya lakukan untuk pertama kalinya. Petualangan, keputusan-keputusan berat, keteguhan-keteguhan hati, sampai penolakan-penolakan tegas yang sampai sekarang, saya pribadi terus bergelut agar Sang Pembolak-balik hati dengan Kasih sayangnya menyelamatkan saya dari jatuh yang teramat dalam.

Bulan-bulan terakhir jelas bukanlah bulan-bulan buruk dalam hidup saya. Kecuali awal Juli, saat saya lagi-lagi dikecewakan mimpi sendiri. Uh... memang perjuangan ini butuh nyali dan "kebebalan". Being persistence adalah kunci mencapai "mau".

MIMPI adalah Bahan bakar untuk terus hidup. Tanpa mimpi, tanpa tujuan, hidup hanyalah hidup yang beruujung mati. Tak berarti,...

Kamis, 21 Februari 2013

Kaleuh Kukaloen! Peu lom

Sudahlah ya... Sudah kukaloen haba gobnyan. Kaleuh kulengoe ban mandum jih, tapi memang chiet bukoen raseuki loen. Peu keneuk takaji ilee. Adak takliek u langet ijoe pieh, ata buet kaleuh kepeu taingat loem. Daleh pieh uloen tuan ka redha.

Di awak droueneuh pih, tuloeng bek lah teuoh2 blah nyan le bak uloen. Brat ulee bak uloen tuan pikee. Haek loen karat that, kadang koen watee. Jadi bak masa nyoe, uloen nak mita raseuki mantoeng ilee. Kadang pih bak paduem buleun ikee kaibalek lom seumangat, baroe tateuoh loem. Nyoe bak hat nyoe, tapiyoeh ilee siat.

Nibak syedara-syedara loen yang meutuah... Yang kha neupike keu loen... Bak TUhan Azza Wajala keuh loen peutroeh doa.. Semoga tanyoe ban manduem seulamat bak padang masya. Man yang ka "get" pike keu loen, dan kasalah haba... Alhamdulillah ngoen Amin Ya Rabbal Alamiin yang jeut loen tuan keun. Mungken nyan jeut keu doa yang jroeh keu uloen supaya bek gadoeh seumangat bak meumita sikula pre loem.

Bak ureung chik uloen tuan... Loen lakee meuah ban saboeh langet ngoen donya. Haek uloen tuan balah jasa droeuneuh ban dua. Adak pieh loen koeh badan sikrak-krak nak bayeu jasa droeneuh, tetap han sep sep. Mak... Bapak...loen lakee meuah, weeh  hatee loen kha hana sengaja loen peusaket hatee droeuneuh dengoen that that loen moe.

JAdiiiii...........uloen tuan hana pakoen2 lee...
Alhamdulillah pujoe keu RAbbi...

AllahuAkbar....      

Selasa, 05 Februari 2013

HUff


Aku bangun pagi ini, membuka mata, dan hal pertama yang terlintas adalah begitu berat hari-hari yang telah kulalui. Begitu menyakitkannya fakta yang kudapat kemarin sore.

Orang bilang, hari cerah mu diawali dengan senyuman di pagi hari dan aku membayangkan, mungkin ke depannya dalam waktu dekat, tak akan ada senyum lagi di pagi hari. Sebanyak apapun orang di sekelilingmu menyemangati dan mengatakan ada hikmah dibalik semua garis yang telah ditentukan, tetap saja kau butuh waktu untuk bangkit. Waktu untuk merenungi dan waktu untuk menerima bahwa ini adalah yang terbaik yang telah tuhan rencanakan untukmu.

Pernah berencana, menghujat semua ynag telah menarikku jauh kemari. Kalau lantas kalian mengira aku tak pantas, kenapa justru menggiringku kemari dari awalnya. Kenapa lantas buat aku berharap banyak. Kelak jangan harap aku mencoba lagi hal yang sama. Tapi benarkah demikian? Bukan.. bukan mereka yang salah. Mungkin aku Cuma manusia tolol yang terlalu percaya diri, atau manusia tengik yang terlalu sombong, dan saat ini Tuhan sedang menamparku, keras...lantas aku... bersabar dan tabah adalah jalan yang sekarang mau tak mau harus kujalani.

Skenario lain adalah.. aku kembali ke masa-masa sulit meyakini diri bahwa setiap orang berhak mencoba kesempatan kedua. Setiap orang berhak melakukan kegagalan, toh kita Cuma manusia. Datang dan keluar dari tempat yang hina. Membawa kotoran dalam perut kemana-mana. Menjadi salah...menjadi gagal, sudah jadi ketentuan yang harus kita hadapi kalau tidak hari ini, mungkin besok, kalau tidak besok mungkin nanti. Setiap orang punya porsi yang sama, yang akan didapat dalam waktu yang berbeda.

Tapi lagi-lagi... apakah aku sekuat ini, sebijak ini. Bohong kalau ada yang bilang aku bisa langsung bangkit saat godam kenyataan ini menghantamku jatuh ke dasar bumi. Bohong kalau malam mampu mengobati sakit hati yang perihnya mungkin akan bertahan sampai aku lupa. Lupa? Bohong kalau orang bilang aku bisa lupa dengan semua yang telah kukorbankan. Kuusahakan dan hasilnya....nihil.

Ada pemikiran yang mengatakan, orangyang tangguh lahir tidak sedemikiannya. Mereka ditempa waktu dan zaman, mereka jadi tangguh karena mereka belajar menerima kenyataan hidup yang akan sulit bagi sebagian besar orang lainnya. Tapi, apa iya aku setangguh ini? Apa iya aku sekuat ini? Apa iya!?

Memutar kembali saat aku pertama kali mengetahui kenyataan ini kudapat. Menyaksikan lagi cara ku menumpahakan marah tempo hari, menangis dan berteriak di tengah alam... Marah? Siapa yang sebenarnya sedang kuhujat? Siapa sebenarnya yang sedang kutantang. TUHan!? Manusia? Aku?

Menyedihkan.. menyedihkan dan memprihatinkan. Perempuan dungu yang gagal dua kali dalam hal yang sama sekali sama. Lantas berlari jauh, menyendiri dan meneriaki alam? Alam? Semesta punya salah apa terhadapku? Menangis!? Apa yang sebenarnya kutangisi? Gagal? Semua orang pernah gagal... sakit? Semua orang pernah sakit. Kecewa? Semua orang juga sama.

Hikmah? Huh... hikmah.... maaf, mungkin sekarang hujatku pada hikmah akan lebih kentara ketimbang syukurku akannya. Mungkin nanti aku terima. Tapi sekarang... mungkin menangis satu-satunya obat terbaikku. Kekecewaan yang teramat dalam ini. Kepahitan yang harus kutelan walau aku tak suka.
TUHan.... sebenarnya sedang tunjukkan aku apa? Sebenarnya sedang ajarkan aku apa? Apa aku terlalu berdosa? Apa aku tak pantas dapatkan ini semua? Sebenarnya sedang rencanakan aku apa?

Ini yang terbaik...ini yang terbaik.... tau apa? Sejak kapan manusia bisa menyetarakan gagal dan baik dalam satu garis yang sama. Gagal itu buruk...selamanya buruk. Baik hanya cara kita memberi diri kesempatan kedua. Bagiku, ini kesempatan kedua dan aku... gagal lagi.

MasyaAllah... Tuhan.. sedang ajarkan aku apa? Bukankah kemarin aku telah alami yang serupa? Bukankah kemrin aku berkubang dengan ini semua? Apa aku harus sekuat ksatria? Untuk apa? Aku tak perlu sekuat mereka. Aku Cuma perempuan cengeng biasa yang pura-pura kuat, pura-pura tegar...tapi aku Cuma manusia biasa...

Ajarkan aku apa?? Kuharap waktu mampu pulihkan ini semua,..dan pada akhirnya memang hikmah itu yang Kau ajarkan padaku yang mampu kuterima.


This is not the end!!

I started this fight in 2011.
ADS 2011 is my first challenge. I didn't know anything about Australia at that time, but then I decided to learn, to be prepared. Still in 2011, there was Taiwan Higher Education Expo held in my campus. I applied again, hoping I had the opportunity to be interviewed at place. But then, the committee told me that English student should not be sent to Taiwan, they offered me USA which was great news for me. While I was waiting the shortlisted candidates for ADS, I took some tests in LPSDM, written test, and interview. I passed it, and they said what I had to do next is waiting. Desember 2011 another good news came, I had been shortlisted and guess what.... I had no idea what IELTS was, and how the interview was about to be.

Somehow... I blamed myself at that time that I didn't prepared my best, that I didn't studied hard like other candidates. It proved me right, I failed the interview. I wasted like a month being grumpy.

it was on 2012 that I tried to applied for another three scholarships and 1 for ADS, again.
I can't recall which scholarship needs more efforts than others, but all scholarships required different documents. NZ-Scholarship is one of which required every applicant to send some important documents. The other scholarship was Fulbright. I didn't expect much since I applied with the minimum TOEFL score required. DAAD was the last scholarship in that year.

Still in the same year, I found the three scholarships I applied didn't want me at the time (hahhahahah)..

And another news come from LPSDM that the language training was about to start on NOvember. I was so glad to hear that. Finally...

And during the training, I got that email that said I had been shortlisted again for ADS. I prepared both like ....I don't know. I lost 7 kg of my weights which is great news. And I have more and more tests to take...

and today...just 2 days after that news on the local newspaper about our local government scholarship, I find that I failed it again...the ADS scholarship. HUffff....

It feels like all efforts I have done never seems enough for this time, I screamed... I cried just like someone cried over his beloved one's died. But then what, does it change everything? Does it mean I have to stop this fight? I do know that I need holiday, like...soon...but then what? I shouldn't stop. I shouldn't ... I must not...

THis year.... I start it all over again... If I fail again, I will fight again...

Rome wasn't build in a day. Maybe it's not the right time to get that.

AJA AJA/.... Fighting...!!!!